Rabu, 28 Januari 2015

Kos-kosan, Langkah Awal Menjadi Istri Teladan

Lima bulan sudah saya menempati kamar kos ini semenjak hari pertama ospek. Dari bayi sampai SMA saya biasa tinggal bersama orang tua. Memang, tak jarang saya menginap di tempat kerabat. Akan tetapi, itu hanya dalam hitungan hari. Jadi, ini kali pertama saya benar-benar hidup sendiri tanpa orang tua. Awalnya memang tidak nyaman, tapi lama-lama enjoy juga kok.

Kos-kosan ini nyarinya susah-susah gampang. Entah sudah berapa pintu yang telah saya ketuk untuk bertanya apakah ada kamar kosong. Berapa pula kamar yang telah saya masuki sekedar melihat-lihat. Dari sini saya sedikit banyak paham kalau kos-kosan itu ada banyak macamnya. Ada yang dijaga ibu kos, ada yang bebas, ada yang bergabung dengan rumah pemilik, ada yang bangunan sendiri, ada yang terpencil, ada yang mentereng, ada yang sederhana, ada yang kece badai, dan masih banyak lagi. Harga pun bervariasi. Di mulai dari harga dua jutaan setahun hingga belasan juta. Harga ini tentu sebanding dengan kualitas yang disediakan.

Kamar kos saya masuk dalam kelas yang sesuai buat saya pribadi. Bagi saya yang terpenting adalah kenyamanan. Saya tidak perlu kamar besar dengan AC dan bedroom set yang waw. Pola pikir saya adalah jika sudah cukup dengan yang ini kenapa harus capek-capek cari yang itu. Saya pun menemukan tempat ini tidak sengaja. Ketika sedang jalan dengan sepupu, saya melihat bangunan ini. Ada papan bertuliskan "Terima kost putri hubungi Ibu A 081xxxxxxxxx". Langsung saya telfon dan si ibu menyuruh saya masuk melihat-lihat. Saya pun suka, esoknya transaksi dan kamar ini sah menjadi privat area saya.

Sebelum tahun ajaran baru dimulai saya sudah mengisi kamar kos dengan barang-barang. Dan satu hari menjelang PPSMB, saya sudah menempatinya. Hari-hari PPSMB saya lalui dengan berat. Berangkat pukul setengah enam pagi, pulang menjelang magrib. Belum lagi malamnya masih harus lembur tugas. Pada masa-masa awal ini saya rentan sekali homesick. Namanya juga anak rumahan, biasa makan ambil di dapur, interaksi sama keluarga, dan menghabiskan waktu di rumah. Sekarang makan harus cari dulu keluar, jauh dari keluarga, dan harus melewatkan hari-hari melelahkan bernama PPSMB.

Bukan haya homesick, saya juga kelabakan mengatur waktu. Mulai dari waktu untuk kuliah, makan, main, hingga bersih-bersih. Belum lagi saya juga harus mengatur uang supaya tidak berjaya di tanggal muda tapi sengsara di tanggal tua. Pusing sekali awalnya harus melakukan semua itu sendiri. Saya pu. Kadang bingung dan beberapa poin ada yang terbengkalai. Salah satu yang paling sulit adalah mengatur waktu bersih-bersih. Meskipun hanya punya tanggung jawab sekamar saja, saya sering meninggalkannya. Seringkalai kamar saya kotor dan berantakan seperti kapal pecah. Saya hanya bersih-bersih saat mood saja.

Saya bertetangga kamar dengan mbak-mbak yang sudah senior dan dewasa. Mereka rajin-rajin, cantik-cantik, dan gemar bersih-bersih. Lama-lama saya juga mikir, nggak mungkin sampai lulus saya tetap begini. Akhirnya saya memutuskan untuk rutin mebersihkan kamar dan membuat jadwal. Tapi, lagi-lagi jadwal bersih-bersih kalah dengan jadwal kuliah, main, dan organisasi.

Selama di rumah, saya pun bukan tipikal anak perempuan yang doyan sapu-sapu, cuci-cuci, beres-beres. Entah mengapa saya seperti tidak merasa memiliki tanggung jawab atas kebersihan rumah. Selama ini saya menganggap itu bukan sepenuhnya rumah saya. Ada ibu yang berkuasa. Jadi bila tidak ada komando, saya tidak akan bergerak. Ribuan kai ibu selalu menasihati supaya saya memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk bersih-bersih rumah tanpa perintah. Tapi, memang dasar sayanya cuek semua nasihat itu hanya jadi angin lalu.

Hingga suatu hari saya membaca salah satu postingan di sosmed mengenai ciri-ciri istri yang paling sering diceraikan suami. Ada beberapa, tapi yang paling jleb di hati saya adalah istri yang tidak rapi dan malas bersih-bersih. Seketika saya jadi merinding. Bagaimana jika kebiasaan saya ini terus berlanjut sampai saya menikah nanti. Ouch, jangan sampek deh. Saya memiliki beberapa contoh perempuan-perempuan bersuami yang masuk kategori ini. Yang jelas ibu saya tidak termasuk. Memang tidak sedap dipandang wanita yang sudah berumah tangga tapi malas mengurus rumah. Nampak sekali rumahnya yang kotor dan berantakan. Lantai berdebu, barang berserakan, cucian numpuk, sementara yang bersangkutan cuek bebek. Pemandangan seperti itu sudah pasti bikin mata sepet dan nggak betah. Pantas saja bila suaminya minta cerai.

Lalu ada satu lagi yang menggugah hati saya. Adapun itu teguran dari orang lain. Sebenarnya berkali-kali ibu saya berkata, "Kamu di rumah sendiri saja malas, bagaimana nanti bila di rumah orang." Lalu dilanjut, "Kalo mama yang ngomong mau sampai berbusa pun kamu nggak akan dengar, tapi lihat saja jika yang ngatain orang lain. Rasain nanti sakitnya." Dan hal itu benar terjadi. Memang sakit sekali rasanya. Ini juga sekaligus jadi pelajaran, jangan sepelekan omongan orang tua terutama ibu.

Untungnya saya segera sadar. Saya segera berbenah diri dan kamar kos saya. Saya pun segera menanamkan dalam pikiran saya bahwa ini kamar saya dan ini menjadi tanggung jawab saya. Saya pun belajar untuk lebih rajin, lebih rapi, dan lebih sering bersih-bersih. Biar kata hanya nyapu, yang penting kamar saya selalu bersih dan enak dilihat. Lagi-lagi saya ingat omongan ibu saya, "Rumah itu mau bagus mau jelek yang penting bersih dan rapi. Rumah bagus kalo kotor dan berantakan tidak akan senyaman rumah jelek yang bersih dan rapi."

Saya juga belajar untuk jadi perempuan yang lebih teratur. Karena tidak bisa dipungkiri kodrat saya sebagai perempuan nanti saya punya kewajiban mengurus keluarga. Saya tidak mau diceraikan suami karena kemalasan saya untuk bersih-bersih. Meskipun ada pembantu, tapi tidak bisa juga melimpahkan semua pekerjaan kepada pembantu. Jadi, saya harus belajar dan berlatih dari sekarang mumpung belum terlambat. Saya bersyukur sekali bisa sadar. Mungkin ini karena doa-doa ibu saya juga hingga saya bisa sampai di titik ini. Alhamdulillah.

Tidak bisa dipungkiri, kesadaran dan kemandirian ini saya dapat sekelah saya ngekos dan hidup sendiri. Memang, kos-kosan adalah tempat yang baik untuk belajar menjadi manusia dewasa. Kos-kosan adalah tempat berlatih terbaik sebelum kita memiliki rumah sendiri nantinya. Terlebih untuk saya pribadi. Karena dari ngekos inilah saya belajar untuk nyuci baju, bersih-bersih, beres-beres, ngatur waktu, ngatur uang, memecahkan masalah, membuat keputusan, semuanya saya lakukan sendirian. Saya sangat bersyukur memiliki kesempatan ini. Saya bisa menempa dan membentuk diri saya menjadi manusia yang sebaik mungkin. Di bangku kuliah kemampuan akademis saya yang diasah, di organisasi softskill saya yang dibentuk, sementara di kos kemampuan saya sebagai pribadi yang ditempa. Alhamdulillah, semoga kita senantiasa diberikan kesuksesan dunia akhirat oleh Allah SWT. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat.

Rabu, 14 Januari 2015

Yang Kusebut Rumah

Bangunan ini hanyalah satu dari sekian juta tempat bernaung yang berdiri di atas sebidang tanah negeri bernama Indonesia. Sebuah tempat yang kusebut rumah. Bila dilihat dari sudut pandang orang yang berlalu, tak ada yang istimewa dari bangunan ini. Namun, terdapat sebuah cerita bila dilihat dari kacamata gadis lugu yang sedang mencari arti kebebasan.

Rumah yang kusebut bukanlah bangunan megah tempat penghuninya berleha-leha. Rumah dalam benakku tak lebih dari bangunan tua menghadap ke timur dengan pelataran cukup untuk bermain badminton serta sederet bunga warna-warni yang tertata rapi dalam pot. Sebidang terasnya yang kecil memanjang serta beberapa tiang kayu cukuplah menjadi saksi bisu aku menghabiskan siang terik dengan bersiul memanggil angin.

Bagiku rumah adalah tempat aku melihat asap mengepul di dapur tanda nasi sedang ditanak. Atau suara keran air memenuhi tempayan tanda hari telah dimulai. Rumah adalah tempatku melihat muka-muka bantal penghuninya yang baru bangun tidur. Di rumah pula, aku mendengar lantunan ayat-ayatNya mengalun syahdu tatkala mentari mulai lengser.

Rumah bukan sekedar bentuk fisik aset keluarga. Namun lebih dari itu, rumah adalah bukti nyata sebuah keluarga bersemayam. Rumah tak kan berarti tanpa gelak tawa maupun isak tangis yang membuatnya hidup. Rumah akan mati jika ia hanya seonggok bangunan tak berpenghuni. Rumah adalah akar kehidupan seorang anak manusia.

Rumahku adalah rumah terbaik di dunia. Rumah di mana ibuku bangun pagi-pagi sekali menyalakan api untuk memulai hari. Rumah di mana adikku akan berteriak ketika aku merebut remote tivi dari tangannya. Serta rumah di mana empat ekor kucing tidur nyenyak di sudut-sudut yang tak seharusnya. Karena dari rumah aku bertumbuh dari seorang gadis kecil sembilan tahun bertransformasi menjadi gadis remaja usia sembilan belas tahun.

Minggu, 11 Januari 2015

Nasihat Orang Tua

Hidup nggak ada yang tahu ya. Nggak ada yang nyangka tuga tahun lagi jadi apa. Tiga tahun yang lalu, saya masih SMP. Begitu pula dengan teman-teman saya. Kami sama-sama murid SMP yang lugu. Dengan wajah polos kami, kami tidak tahu akan jadi seperti apa tiga tahun kemudian. Termasuk saya, saya tidak pernah terbayang akan jadi mahasiswi perikanan UGM. Saya pun tidak pernah menerka-nerka akan seperti apa teman-teman saya nantinya.

Ternyata, sekarang ada yang kuliah di kedokteran, kedokteran gigi, akutansi, teknik sipil, arsitektur, kedokteran hewan, ilmu ekonomi, geografi, pertanian, perikanan (saya), matematika murni, statistik, juga ada yang memilih sekolah ikatan dinas. Tidak ada yang salah dengan jurusan dipilih. Kita semua berhak memilih mau jadi apa kita kelak.

Memang, sih, sekarang saya bisa melihat korelasinya. Jika waktu masih sekolah rajin belajar, pintar, nurut, rata-rata besarnya sukses. Tapi, jika dulunya agak nyeleneh, waktu nyari kuliah juga agak nyeleneh dan agak kesusahan juga. Yang hobi pacaran terus, sekarang udah mendahului punya momongan juga ada. Ternyata, nasihat orang tua itu memang benar. Ternyata, bila kita nurut sama orang tua, hidup kita bakalan jadi lebih baik. Ternyata, nasihat orang tua itu luar biasa. Intinya, menjadi anak yang baik akan melatih kita untuk menjadi manusia yang baik ketika dewasa. Oke, kalau begitu saya akan menurunkan ego saya dan mengikuti nasihat orang tua.

Tidak ada orang tua yang menjerumuskan. Semua orang tua ingin yang terbaik buat anaknya, buat masa depan anaknya. Well, saya rasa saya banyak salah sama ibu saya. Ibu saya sangaaat cerewet masalah bangun pagi, sholat subuh, bersih-bersih, itu deh. Mungkin, kalau sekarang saya ikuti nasihat beliau, akan ada kebaikan yang bakal saya tuai nantinya.

Memang sudah seharusnya, anak-anak tidak boleh sok tahu. Kita boleh pintar, tapi tetap saja orang tua lahir sebelum kita. Mereka sudah melihat bagaimana wujud dunia ini jauhhh sebelum kita. Bahkan, mungkin saja mereka sudah melalui masa-masa sulit sebelum kita juga. Jadi, sudah sewajarnya bila mereka lebih berpengalaman. Mungkin mereka tidak sepandai kita dalam beberapa hal, tapi tetap mereka sudah lebih dulu mengalami hal sulit jauuuhh sebelum kita lahir. Jadi, jangan sok tau, jangan sok bijak, jangan pernah mengabaikan nasihat orang tua.

Tetangga Masa Gitu?

Saya lagi suka nonton serial Tv di youtube. Waktu saya masih SMA, acara ini disiarin di Net Tv. Tapi, berhubung jam tayangnya nggak ngenakin, jadi saya jarang nonton deh. Judulnya Tetangga Masa Gitu. Yang main Dwi Sasono, Sophia Latjuba, Chelsea Islan, sama D.... Mahendra, tauk saya lupa. Isinya sih tentang dua pasangan suami istri yang rumahnya tetanggaan gitu. Tapi yang satu pengantin baru nah satu lagi udah menikah sepuluh tahun.

Jadi, ceritanya ya tentang kehidupan sehari-hari aja sih tapi lucu. Soalnya semacam sitkom gitu. Tapi, berhubung jam tayangnya jam sholat isyak, jadi saya disuruh sholat ke mushola deh. Eh begitu pulang udah mau abis. Jadi cuma dapet awal cerita ama endingnya doang. Ngga asik kan.

Haha.. tapi itu doloo. Sekarang? No way. Nggak ada alasan buat saya nggak nonton serialnya. Biarpun saya harus ngulang dari episode pertama, nggak masalah. Biarpun nggak ada orang lain yang nonton, nggak masalah. Biarpun nggak lagi ngetren, nggak masalah juga. Pokoknya kalo saya udah suka, yaudah suka aja, titik. Hehe... orang mah, bodo amat. *peace

Berhubung sekarang saya punya kuota buat streaming, jadi saya bisa nonton sepuasnyaaa. Yeeeey.... Habis, apalagi hiburannya T.T

Well, Adi diperankan oleh Dwi Sasono dan Angel diperankan oleh Sophia Latjuba merupakan pasangan suami istri yang sudah menikah selama sepuluh tahun. Angel adalah seorang pengacara yang bekerja di law firm. Sementara Adi adalah seorang guru SMA untuk pelajaran menggambar.

Dengan gaji Angel yang lebih besar dari Adi, mereka sering berantem dan mengungkit-ungkit tentang siapa yang membayar tagihan, rumah, belanja bulanan, dsb, dsb. Semntara di rumah sebelahnya, ada pasangan suami istri yang baru menikah tiga bulan. Bintang diperankan oleh Chelsea Islan dan Bastian diperankan oleh D... Mahendra. Mereka, layaknya pasangan muda, masih romantis dan terbilang abg banget. Berbeda jauh dengan kehidupan Angel dan Adi. Sampai sekarang saya baru sampai episode 35. Lucu deh, saya suka ketawa-ketawa sendiri di kamar.

Semoga Bahagia :')

Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu menoleh kemari. Oke, aku tau ini cinta diam-diam. Dan aku juga tau agamaku mengajarkan bahwa sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang dijaga dalam diam. Aku pun tau bahwa sebaik-baiknya mencitai seseorang adalah dengan mendoakannya. Aku tau, hati ini selalu berubah-ubah. Aku tau tempat terbaik untuk menitipkan cintaku adalah di langit. Dan aku sangat tau bahwa yang paling bisa dipercaya untuk kutitipkan pesan cinta ini adalah Tuhan. Aku tau semua itu. Tapi apa kamu tau? Oke, aku juga tau bahwa ketika aku menyimpan cinta ini aku sedang berjihad.

Tapi, kamu perlu tau bahwa aku juga manusia biasa. Aku bukan nabi, aku juga bukan malaikat. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya supaya kamu bisa tau. Ah, kadang aku menyesali pertemuan itu. Kenapa kita harus bertemu? Kenapa kamu harus begitu gentle? Kenapa kamu harus membuat aku melting? Kenapa kamu harus membuat aku tersiksa karena menyukaimu. Dan rasa suka itu seperti benih yang ditabur di hati yang tandus. Sikapmu kepadaku seperti air yang nenghujani tanah tempat benih itu bertumbuh. Dan percayakah kamu benih itu benar-benar tumbuh? Sekalipun tanahnya tandus, bila dihujani, dipupuk, dan dirawat tentu akan tumbuh juga toh. Dan bukan hanya bertumbuh, tapi juga berkembang. Dari yang awalnya suka, jadi sayang, dan kini jadi cinta.

Dan cinta itu kini terpenjara asal kamu tau. Dan yang memenjarakannya adalah, aku. Aku mengurungnya dalam diam ini. Aku tau kita hanya teman, we are just friends. Enough. But, satu hal yang kamu perlu tau kamu baik. Kamu salah satu cowok paling baik yang pernah aku temuin. Aku bersyukur karena aku pernah suka sama kamu yang notabene anak baik. Setidaknya aku nggak suka sama orang yang salah. Tapi, melihat perkembangan hubungan kita yang aku tau bakalan stuck di sini aja, aku memutuskan untuk menyudahi semua ini. Penantian ini, doa-doa ini, harapan ini. Terlebih ketika aku tau bahwa kamu sudah memiliki benih yang kamu tabur sendiri dan aku aku tau itu bukan buat aku. Well, aku yakin dia orangnya baik. Aku yakin kalo kalian jadian kalian pasti bahagia.

Para pejuang cinta, kalian mungkin akan menyalahkan aku. Kalian mungkin akan menganggap aku begitu lemah dan mudah sekali menyerah. Tapi perlu kalian ketahui bahwa aku ini wanita. Aku tidak bisa duduk diam dan menanti untuk waktu yang tidak tau sampai kapan. Aku pun tidak ingin memperjuangkan cinta yang mungkin memang tidak layak untuk aku perjuangkan. Satu yang mungkin baik untuk dilakukan saat ini adalah merelakannya. Berdoa untuk kamu dan dia. Semoga bahagia. Aku akan menemukan cinta lainnya yang memang pantas untuk aku perjuangkan, lagi.

Sabtu, 10 Januari 2015

Mahasiswa ohh Mahasiswa

Apa sih yang bisa dilakukan mahasiswa dengan status yang disandangnya selain kuliah? Demo, mengkritik kebijakan, hangout, acuh, atau apa? Ihh, Eky apa sih bahasannya serius amat. Bukan mau sok serius atau gimana. Saya saat ini kebetulan menyandang status sebagai mahasiswi. Oke, tidak ada yang kebetulan. Semua ini sudah digariskan. Saya memang masih terhitung maba, namun berdasarkan pengalaman lima bulan kuliah kurang lebih saya mendapat pengetahuan baru. Dari mulai ospek, kuliah di kelas, diskusi, seminar, hingga dari organisasi yang saya ikuti saya sering mendengar bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, penyambung lidah rakyat, harapan bangsa, dll, dll.

Istilah pertama, mahasiswa sebagai agen perubahan, agent of change. Dari istilah ini seakan mahasiswa adalah tonggak perubahan suatu peradaban. Tidak keliru memang bila dibilang demikian. Ingat Budi Utomo, motornya adalah pemuda yang umurnya ya umur-umur mahasiswa. Indonesia bisa lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang juga berkat usaha gigih para kawula muda masa itu. Lalu ingat lagi semangat Bung Karno, Bung Hatta, dkk ketika berjuang mereka semua usianya usia mahasiswa gini kan. Lalu ada lagi Soe Hok Gie, dan yang paling berasa adalah pada saat tragedi 98 ketika mahasiswa menggulirkan rezim Soeharto. Mereka menuntut reformasi. Dan usaha mereka tidak sia-sia. See, kini demokrasi benar-benar berdaulat di negara kita.

Istilah lain yang sering diucapkan adalah mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. Contoh mudahnya adalah dengan adanya aksi yang sering digelar. Maksudnya adalah mahasiswa menampung aspirasi rakyat kemudian disampaikan kepada pemerintah. Salah satunya ialah dengan menggelar aksi. Misal saja pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bakal merugikan rakyat, di sinilah peran mahasiswa untuk melakukan protes.

Namun, kini banyak yang mengeluhkan kurangnya peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak mahasiswa kini terlena oleh fasilitas yang semakin canggih. Tidak sedikit bahkan yang acuh terhadap sekitarnya dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Yang penting kuliah, lulus dengan IPK bagus, dapat kerja dengan gaji tinggi, setelah itu sudah. Bahkan berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh salah satu pers kampus, minat mahasiswa untuk aktif di organisasi berkurang. Rata-rata lebih mementingkan prestasi akademik.

Padahal dari organisasi ada banyak hal yang bisa didapat yang tidak ada dalam kuliah di kelas dan mengerjakan tugas saja. Terkadang, Ipk yang bagus saja tidak cukup untuk sukses. Karena nantinya kita juga akan hidup di masyarakat. Dunia kerja saja tidak seperti dunia kuliah di kelas. Apalagi bagi yang berminat jadi wirausaha, jangan harap nilai bagus merupakan bekal yang cukup untuk membangun bisnis.

Kuliah di dalam kelas, mengerjakan tugas dari dosen dengan baik, mengejar nilai tinggi, tidak ada yang salah dengan pilihan itu. Itu juga penting, karena otak kita perlu update ilmu baru. Tapi, yang salah adalah jika hanya mengandalkan nilai. Itu yang keliru. Selagi muda, selagi ada kesempatan, bekalilah diri dengan bekal sebanyak-banyaknya selagi ada kesempatan.

Jumat, 09 Januari 2015

Mengisi Periode Nggak Ngampus

Saya punya rencana yang ingin saya kerjakan selama masa nggak masuk kuliah ini. Saya nggak mau menyebutnya libur karena nanti saya tambah malas.

1. Ikut lomba paper. Bersama teman kuliah, kami mau ikut lomba paper yang diselenggarakan oleh salah satu universitas di Indonesia. Lagipula tema yang akan kami garap sesuai dengan jurusan kuliah kami, yakni mengenai dunia perikanan dan kelautan. Lomba ini berkaitan dalam rangka dimulainya ASEAN Economic Comunity.

2. Les Bahasa Inggris. Pada bulan Juli yang lalu saya mengikuti sebuah kursus dan saya telah menyelesaikan satu level. Dan kini saya berencana untuk melanjutkannya. Bagi saya, menguasai Bahasa Inggris adalah hal yang penting. Oleh karena itu, saya akan terus mempelajarinya sampai seahli mungkin.

3. Belajar Bahasa Jepang. Di kampus ada kelas bahasa Jepang yang senseinya didatangkan langsung dari Jepang. Semester lalu saya sempat mengikuti dua kali pertemuan. Namun, saya mengalami kesulitan yang amat berarti. Pertama, saya tidak mengikuti kelas dari awal dan kontinyu. Kedua, saya tidak punya basic sama sekali. Jadi, selama periode nggak kuliah ini saya ingin menghafalkan hiragana katakana. Nanti, awal semester dua saya akan masuk kelas yang dari awal dan mengikutinya dengan teratur. Siapa tahu nanti saya dapat kesempatan melanjutkan studi ke Jepang. Kalau saya sudah bisa bahasanya kan bagus.

Mungkin sejauh ini, itu dulu rencana saya. Semoga dapat terlaksana dan tidak menjadi wacana doang.