Bangunan ini hanyalah satu dari sekian juta tempat bernaung yang berdiri di atas sebidang tanah negeri bernama Indonesia. Sebuah tempat yang kusebut rumah. Bila dilihat dari sudut pandang orang yang berlalu, tak ada yang istimewa dari bangunan ini. Namun, terdapat sebuah cerita bila dilihat dari kacamata gadis lugu yang sedang mencari arti kebebasan.
Rumah yang kusebut bukanlah bangunan megah tempat penghuninya berleha-leha. Rumah dalam benakku tak lebih dari bangunan tua menghadap ke timur dengan pelataran cukup untuk bermain badminton serta sederet bunga warna-warni yang tertata rapi dalam pot. Sebidang terasnya yang kecil memanjang serta beberapa tiang kayu cukuplah menjadi saksi bisu aku menghabiskan siang terik dengan bersiul memanggil angin.
Bagiku rumah adalah tempat aku melihat asap mengepul di dapur tanda nasi sedang ditanak. Atau suara keran air memenuhi tempayan tanda hari telah dimulai. Rumah adalah tempatku melihat muka-muka bantal penghuninya yang baru bangun tidur. Di rumah pula, aku mendengar lantunan ayat-ayatNya mengalun syahdu tatkala mentari mulai lengser.
Rumah bukan sekedar bentuk fisik aset keluarga. Namun lebih dari itu, rumah adalah bukti nyata sebuah keluarga bersemayam. Rumah tak kan berarti tanpa gelak tawa maupun isak tangis yang membuatnya hidup. Rumah akan mati jika ia hanya seonggok bangunan tak berpenghuni. Rumah adalah akar kehidupan seorang anak manusia.
Rumahku adalah rumah terbaik di dunia. Rumah di mana ibuku bangun pagi-pagi sekali menyalakan api untuk memulai hari. Rumah di mana adikku akan berteriak ketika aku merebut remote tivi dari tangannya. Serta rumah di mana empat ekor kucing tidur nyenyak di sudut-sudut yang tak seharusnya. Karena dari rumah aku bertumbuh dari seorang gadis kecil sembilan tahun bertransformasi menjadi gadis remaja usia sembilan belas tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar