Dosen mata kuliah dasar-dasar manajemen (dasmen) saya namanya Pak Irham. Beliau menerapkan sistem open book pada ujiannya. Awalnya saya sangat bersuka cita mengetahui hal ini. Karena saya tidak perlu menghafalkan teori-teori yang seabrek itu. Namun ketika ujian pertama kali yakni Ujian Tengah Semester (UTS) rupanya saya salah mengartikannya. Saya pikir mentang-mentang open book saya tak perlu susah-susah memahami materi. Saya pikir dengan membaca sekilas poin-poin materi sudah cukup. Saya bahkan malah manghafal letak materi yang akan saya buka ketika ujian nantinya.
Selama ujian pun saya hanya berfokus menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang tertulis di buku. Senjata mahasiswa adalah yang penting jawabannya banyak biar dosen malas baca terus dikasih A. Pola pikir yang bodoh. Tapi yang dapat adalah tangan, leher, dan punggung saya pegal tidak karuan. Bayangkan saja selama satu setengah jam yang saya lakukan adalah duduk menunduk menyalin tulisan di buku kemudian memindahnya ke lembar jawaban. Itu adalah hal yang sangat melelahkan.
Tapi, seiring berjalannya waktu saya mulai mengerti esensi dari ujian open book itu. "Open book, open mind." Begitu selalu kata Pak Irham. Ujian open book bukan menyalin isi buku. Fungsi dari open book adalah yang pertama supaya kita paham tanpa harus menghafal. Lupa adalah sifat yang sangat manusiawi, jadi dosen memberi pancingan berupa buku. Teori-teori yang disampaikan para ahli sungguh banyak dan kita hanya akan tepar jika menghafalkan semuanya. Tidak perlu dihafal, dipahami saja. Bila lupa, ya buka buku. Itulah gunanya open book.
Pada ujian dasmen berikutnya, yakni Ujian Akhir Semester (UAS), pikiran saya sudah lebih maju dari sebelumnya. Bila pada UTS saya hanya sekedar menyalin, kini saya mulai menggunakan otak saya untuk berpikir. Saya tidak lagi menyalin mentah-mentah tapi saya hanya membuka buku untuk mengingatkan pada suatu teori.
Ketika teorinya ketemu, baca sekilas, tulis definisi aslinya, lalu kembangkan gagasan kita sebaik mungkin. Berikan contoh-contoh riil bila diperlukan. Intinya menjawab soal esay sama seperti kita membuat tulisan yang enak dibaca.
Jawaban esay tidak boleh ngawur ngalor ngidul tanpa juntrungan yang jelas. Harus ada landasannya, ada ide pokok, serta dikembangkan dengan kalimat yang runtut dan jelas. Efeknya adalah tangan, leher, dan punggung saya tidak lagi pegal seperti ujian yang pertama. Dan menulis jawaban terasa lebih menyenangkan dan memuaskan karena kita menulis gagasan kita sendiri dengan bantuan teori yang ada di buku untuk memperkuat pendapat kita. Semoga saja, hasilnya nanti juga menyenangkan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar